WHAT'S NEW?
Loading...
Membedah Kaidah-Kaidah Nahwu Sharaf

Tidak dapat dipungkiri bahwa Bahasa Arab dewasa ini menjadi bahasa internasional. Sehingga peminat terhadap bahasa ini terus meningkat. Sementara untuk bisa berkomunikasi dengan sebuah bahasa tentu kita dituntut memiliki kemahiran akan bahasa tersebut, dalam hal ini bahasa Arab. Kemahiran itu meliputi kemahiran, mendengar, berbicara, membaca, dan menulis.

Untuk bisa memiliki kemahiran bahasa Arab, seseorang harus mengusai betul nahwu dan sharaf. Tanpa mengusai dua hal itu mustahil seseorang bisa membaca dan menulis bahasa Arab sebagai prasyarat standar untuk menguasai sebuah bahasa. Sayangnya, buku-buku yang mengurai secara mudah dan jelas mengenai kaidah-kaidah nahwu sharaf masih sangat terbatas jumlahnya sehingga bagi para pemula ini merupakan kendala tersendiri.

Nah, buku ini mencoba mengatasi kendala tersebut. Di dalamnya akan diurai secara lengkap semua kaidah-kaidah nahwu dan sharaf dengan penyampaian yang sederhana, menarik, dan mudah dipahami. Buku ini juga sekaligus menepis anggapan bahwa mempelajari bahasa Arab selalu membosankan dan menakutkan.

Menariknya, urutan pembahasan di dalamnya berdasarkan apa yang ada pada kitab Jurmiyah, sebuah kitab kecil yang cukup tenar di kalangan pesantren. Toh begitu, penulis memperlebar pembahasan dengan penjelasan lebih mendetail yang terambil dari referensi-referensi kitab-kitab besar sekelas Alfiyah Ibnul Malik, Jami’ud Durus al-Arabiyah, Al-Qowai’d al-Asasiyyah,dll. (hal.14)

Uratan-urutan itu meliputi, pertama, seputar kalam dan katagorinya. Secara sederhana yang dinamakan kalam adalah susunan dua atau lebih kata yang memberikan suatu faedah atau pemahaman pada orang yang diajak bicara. Dalam bahasa Indonesia, kalam bisa disamakan dengan kalimat. Kalam ini dibagi dalam tiga katagori; isim (kata benda), fi’il (kata kerja), dan huruf (mirip dengan kata tugas). (hal.15)

Dan untuk membedakaan ketiganya kita harus mengetahui ciri pembeda masing-masing isim, fi’il, dan huruf tersebut. Semua ciri dan contohnya diurai dengan padat pada akhir bagian ini.

Urutan kedua, seputar i’rab. Menurut Syaih Zaini Dahlan dalam Matan al-Jurmiyah, i’rab adalah perubahan keadaan akhir kata karena perbedaan beberapa amil (penyebab perubahan akhir kata)  yang menyertainya, baik secara nyata atau pikiran. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Musthafa al-Ghalayin dan Ahmad al-Hasyimi. (hal.25).

Menurut jumhur ulama, i’rab itu terbagi menjadi 4 katagori, yaitu i’rab rafa’, nashab, jar, dan jazm. Lalu ke-4 i’rab tersebut diklasifikasikan dalam 3 wadah umum, yaitu i’rab yang khusus masuk pada isim (i’rab jar), i’rab yang khusus masuk pada fi’il (ir’ab jazm), dan i’rab yang bisa masuk pada keduanya (i’rab rafa’ dan nashab). Sedang tanda-tanda masing i’rab serta contoh pemasanganya diurai secara detail pada akhir bab 3 buku ini.

Selain membahas dua hal penting di atas, pada bab-bab selanjutnya penulis juga menguraikan tentang jenis-jenis fi’il dan tentang isim –yang meliputi isim yang harus dibaca rafa’, yang harus dibaca nasab, dan yang harus dibaca jar, serta menjelaskan satu persatu isim tawabi’ yang terdiri dari na’at, taukid, badal, dll.

Meski istilah-istilah itu bagi sebagian pembaca terdengar asing, namun setelah membaca buku ini per-bab semua akan terasa familier karena penulis selalu membuat rujukan pembanding dengan bahasa ibu kita, bahasa Indonesia.

Judul buku : Buku Lengkap Kaidah-Kaidah Nahwu
Penulis: Ulin Nuha, M.Pd.I
Penerbit: Diva Press
Cetakan: I, April 2013
ISBN: 978-602-255-124-9
Peresensi: Moh. Romadlon. penikmat buku, tinggal di Kebumen

sumber : www.nu.or.id 
Fadhilah Sholat Tarawih,

Dari Sayyidna Ali bin Abu Thalib, ia berkata,” Nabi Saw ditanya mengenai fadilah shalat Tarawih dalam bulan Ramadhan. Lalu beliau menjawab, yaitu,"
  • Awal malam Ramadhan, orang mukmin diampuni dosanya, bersih seperti bayi lahir dari kandungan ibunya.
  • Malam kedua, ia diampuni dosanya dan kedua orang tuanya yang mukmin.
  • Malam ketiga, malaikat memanggil dari bawah “Arasy, berseru,”Segeralah kamu beramal, Allah mengampuni dosa-dosamu terdahulu terdahulu.”
  • Malam keempat, diberi pahala sebanyak pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al Quran.
  • Malam kelima, diberi pahala sebanyak pahala shalat di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha.
  • Malam keenam, diberi pahala sebanyak pahala thawaf di Baitul Makmur, setiap batu-batuan dan tanah liat beristighfar untuknya.
  • Malam ketujuh, seolah-olah bertemu Nabi Musa berjuang bersama melawan Fir’aun dan Haman.
  • Malam kedelapan, diberi segala yang telah diterima Nabi Ibrahim AS.
  • Malam kesembilan, seolah-olah ia beribadah yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad Saw.
  • Malam kesepuluh, Allah memberinya kebaikan dunia dan akhirat.
  • Malam kesebelas, ia bakal meninggal dunia bersih dari segala dosa, seperti bayi baru lahir dari kandungan ibunya.
  • Malam keduabelas, kelak wajahnya bercahaya seperti bulan purnama di hari kiamat.
  • Malam ketigabelas, kelak di hari kiamat aman dari segala kejahatan.
  • Malam keempatbelas, dibebaskan dari hisab, para malaikat memberi kesaksian atas ibadah shalat Tarawihnya.
  • Malam kelimabelas, bershalawatlah kepadanya segenap malaikat, penanggung ‘Arasy dan Kursi.
  • Malam keenambelas, dibebaskan dari siksa api neraka, dan bebas pula masuk Surga.
  • Malam ketujuhbelas, diberi pahala seperti yang diterima para Nabi.
  • Malam kedelapanbelas, malaikat memanggilnya,”Ya hamba Allah, engkau dan kedua bapak-ibumu telah diridhai oleh Allah Swt.
  • Malam kesembilanbelas, derajatnya ditinggikan di Surga Firdaus.
  • Malam keduapuluh, diberi pahala syuhada dan shalihin.
  • Malam keduapuluhsatu, dibangunkan sebuah gedung nur di Surga.
  • Malam keduapuluhdua, kelak di hari kiamat aman dari bencana yang menyedihkan dan menggelisahkan.
  • Malam keduapuluhtiga, dibangunkan sebuah kota di Surga.
  • Malam keduapuluhempat, doa yang dipanjatkan sebanyak 24 doa dikabulkan.
  • Malam keduapuluhlima, dibebaskan dari siksa kubur.
  • Malam keduapuluhenam, pahala baginya ditingkatkan selama 40 tahun.
  • Malam keduapuluhtujuh, melintasi Shirat bagai kilat menyambar.
  • Malam keduapuluhdelapan, ditinggikan derajatnya 1000 tingkat di Surga.
  • Malam keduapuluhsembilan, diberi pahala sebanyak 1000 haji mabrur.
  • Malam ketigapuluh, diseru Allah dengan firman-Nya,”Ya hamba-Ku, silahkan makan buah-buahan Surga, silahkan mandi air Salsabil, dan minumlah dari telaga Kautsar, Akulah Tuhan-mu dan kamu adalah hamba-Ku.
sumber : http://majlisdzikrullahpekojan.org
JADILAH MANUSIA YANG PANDAI BERTERIMA KASIH

Siapa yang tidak tahu berterima kasih pada orang yang telah berbuat baik padanya, maka ia sulit pula bersyukur pada Allah. Dan Allah tidaklah menerima syukur seorang hamba, sampai ia tahu berterima kasih pada orang lain.

Dari Abu Hurairah r.a, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

"Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia." (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. shahih)

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Siapa yang biasa tidak tahu terima kasih pada manusia yang telah berbuat baik padanya, maka ia juga amat sulit bersyukur pada Allah.

2- Allah tidaklah menerima syukur hamba sampai ia berbuat ihsan (baik) dengan berterima kasih pada orang yang telah berbuat baik padanya.

3- Perintah untuk pandai bersyukur.

4- Pemberi nikmat hakiki adalah Allah dan manusia yang berbuat baik adalah sebagai perantara dalam sampainya kebaikan.

Jadilah manusia yang pandai berterima kasih, lebih-lebih pada orang tua, guru dan setiap yang telah memberikan berbagai kebaikan pada kita.

Semoga Allah memberi taufik pada kita supaya pandai berterima kasih.

Sumber : http://www.facebook.com/hikmahterserak?ref=h